Friday, 8 November 2013

Tragedi 1 November FK



Hai guys, kali ini aku bukan mau share ilmu atau majang karya sastraku kaya biasanya. Tapi lebih mau sharing pengalamanku yang terjadi kemarin tanggal 1 November. Jadi ceritanya gini, kan ini tuh kegiatan anak prodi Ilmu Gizi FK Undip rencananya mau ngadain kegiatan LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) tempatnya di Bukit Lerep Indah Ungaran Barat (kalo di Purbalingga mungkin semacam ‘pratin’ gitu sih kayaknya). Acaranya itu semacam LDK gitu, kegiatan intinya penyampaian materi kepemimpinan, tapi yang lebih bikin menarik buat pribadi aku si acara pensi yang ada api unggunnya sama outbond juga. Kalo yang sama sekali nggak bikin tertarik si jelas biayanya, yaitu (jeng jeng jeng) ..........................
. 200.000.(itu harga kosan gue sebulan woyyy -.-)
Nah, kita anak prodi gizi kumpul di kampus tercinta jam setengah 9, itu yang disuruh sama kakak panitianyah. Tapi berhubung molor, upacara pembukaan pun dimulai jam 10. Habis itu sholat terus makan siang sampai akhirnya cus berangkat jam 1 siang. Kita kan total anak Salmon Merah yang ikut kalo nggak salah 134 anak, dibagi 12 kelompok. Nah sama panitianyah itu disediain 4 truk dalmas (truknyah satpol pp), 1 truk dalmas muat nggak muat harus muat 3 kelompok yang kurang lebih (12x3) 36 orang plus barang-barangnya yang superbanyak. Ada lagi si 1 truk dalmas, tapi kayaknya Cuma buat panitia deh. Nah kita kan dari kampus tercunta berangkat jam 1. Aku dari kelompok pisang plus mbak Linda sebagai kambing naik truk nomer 3 bareng sama kelompok semangka sama apel merah dan kambing2 mereka. Ternyata truknya itu sempit banget (inget, ini bukan truk yang buat ternak itu loh, tapi truk dalmas satpol pp, gambarnya bisa di search di google image J) sampai ada sekitar 7 orang duduk di bawah, terus ada juga yang duduk di atas kaya cicak. Sepet si waktu itu sama panitia di suruh pindah ke truk lain yang masih longgar 5 anak, tapi pada nggak mau, udah pw katanya. Alhasil yang pindah cuma 2 orang (Dwi sama Arum).
            Truk pun jalan dengan lancar. Berhubung yang naik itu mayoritas cewe, kena hentakan dikit aja pasti udah njerit2 kan. Kalo aku sendiri si lebih banyak tidurnya soalnya nggak kuat banget ngrasain sepoy2 angin gitu :D Truk rombongan biasa banget kan kalo selip-selipan? kebetulan waktu mulai masuk alun2 ungaran, truk nomer 3 ini posisinya di depan sendiri diikuti sama truk yang lain. Pas sampai di alun2 ungaran situ aku pas lagi bangun si, jadi masih inget lokasi2 setempatnya.
Tadi udah disinggung kan kalo tempatnya rada kaya pratin-pratin gitu, nah jalannya pun demikian. Tapi sini tuh tanjakannya lebih curam2. Di tanjakan pertama waktu masih awal, truk masih lancar terkendali. Semakin menanjak, sesekali truk berhenti, mundur sedikit, kemudian menanjak lagi. Nah waktu di tanjakan yang paling curam (udah lumayan deket sama lokasi penginapan si sebenernya), tragedi tak akan terlupakan terjadi. Hampir sama kaya di tanjakan2 sebelumnya, truk mengerem berhenti. Bedanya, kalo sebelumnya masih bisa naik lagi, pas ini tuh nggak. Dan jelas aja truk langsung merosot turun mundur. Sruuuuuuuuuuuuuuttttttt, jebreeeeeeeeeeeeeedddddddddd! Yaps, truk kita mengalami kecelakaan. Masih nggak percaya saat itu. Saat aku sadar, posisiku berada di atas tumpukan barang2 dan temen2. Dari dalam situ aku yakin kalo truk itu terguling 90o ke kiri. Aku sadar, ya, aku sehat wal afiat saat itu. Tapi aku masih belum sadar itu kecelakaan, aku pikir ada belokan tajam yang bikin kita sapai pada roboh, tapi begitu dengar teriakan2 menyebut nama Allah Sang Pencipta, aku sadar itu kecelakaan. Dadaku mulai sesak, tapi aku tidak ingin pingsan dalam keadaan sehat seperti itu. Nggak mecing banget kan? aku Kakak2 panitia dari truk lain dan warga setempat mulai datang menolong membantu mengeluarkan kami. Dadaku semakin sesak mendengar suara tolong2 dan ada yang berteriak : ‘Kak tolooong ada yang kepalanya bocor...’ #jleb aku jadi lebih meneliti sekitar. Aku mendapati Dipta di bawah kananku cuma terlihat kepalanya dari tumpukan tas, dia sadar, saat aku tanyapun ia menjawab. Aman, Dipta sehat. Tapi begitu aku lihat di bawah kiri ku, Astaghfirullah, mbak Linda sebagian muka dan bajunya sudah dipenuhi darah. Macam-macam pikiranpun mucul. Aku bisa keluar berkat bantuan salah satu kakak. Keluar dari truk pikiranku semakin kacau. Teman2ku mulai dibantu keluar satu2, begitupun mbak Linda. Tangis, darah, luka, batin, ah aku nggak tau lagi apa yang bisa aku sampaikan tentang hari itu. Ternyata banyak banget yang terluka saat itu, aku menangis sejadinya. Akupun nggak ngerti apa yang aku tangisi. Bukan, bukan karena sakit yang pasti. Aku lebih merasa miris, dan sedih. Mengingat kita hanya anak perantauan yang di sini itu rela jauh dari orang tua semata-mata cuma pengin nuntut ilmu. Mereka orang jauh, ada yang dari sumatera, sulawesi, kalimantan, bagaimana perasaan orang tua mereka mendapat kabar kaya gini? Aku nggak bisa ngebayangin itu.
Tapi di sisi lain aku sangat bersyukur kepada Allah swt. menjadi salah satu orang yang selamat tanpa perlu perawatan sedikitpun dari medis. Aku nggak tau ini mukjizat atau apa, mengingat temen2 korban yang masih bisa langsung melnjutkan acara hanya sekitar 6 anak. Subhanallah J Iya benar, acara dilanjutkan. Tapi sekitar pukul 1 siang hari sabtunya, kita dipulangkan menggunakan angkutan Bus.
Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diambil dari kejadian ini (ini menurut analisis aku sendiri si) :
1.      Berdoa sebelum berpergian
Ya, kemarin pas di penginapan kan sempet ngobrol2 sama temen sekamar, nah mereka sempet cerita kalo mereka berdoa bersama dulu sebelum berangkat. Denger itu aku jadi sadar, oiya, tadi itu di trukku ternyata nggak ada doa bersama deh. Yaampuun kenapa hal penting kaya gitu bisa dilupain -.-
2.      Patuhi aturan
Setiap alat transportasi pasti punya kuota sendiri2 kan berapa beban yang dibatasi. Nah truk dalmas juga pasti punya. Dan menurut analisisku si, kita udah nyalahin aturan batas beban yang di bawa, kan di awal sama kakaknyah udah ada yang disuruh pindah, tapi nggak mau si u,u
3.      Jangan lupa pamit sama orang tua
Kalo ini si dari aku pribadi, soalnya aku waktu sebelum berangkat nggak ngabarin sama ortu si. Tapi aku yakin doa orang tua tetap mengalir, dan iu yang ngasih aku kekuatan sampe aku masih bisa berdiri disini. Love you mom n dad :* 
Oya, berita ini sempet masuk koran loh, kalo mau baca bisa klik disini :) Tapi sejak saat itu aku jadi percaya kalo jurnalis itu lebay ! melebih-lebihkan berita !
Sekian dulu ya sharing dari aku, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin :)

2 comments:

  1. Replies
    1. iya, alhamdulillah banget. Nggak papa kak, sering-sering lewat aja yaa :D

      Delete