Saturday, 6 September 2014

Pengalaman Operasi Angkat FAM: Tumor Jinak di Payudara


Selamat pagi, siang, malam, atau kapanpun dimana para pembaca berada!
Pada kesempatan kali ini aku mau curhat total tentang pengalamanku beberapa waktu lalu. Tepatnya pada hari Kamis tanggal 21 Agustus 2014 lalu, aku baru saja menjalani pengalaman pertamaku menjadi pasien di ruang operasi!
Sekitar 2 bulan sebelumnya, aku merasa ada sesuatu yang lain di payudaraku. Semacam benjolan yang cukup besar, tetapi tidak terasa sakit. Dan benjolan ini hanya ada di salah satu payudara, kalau aku sebelah kanan bawah. Karena merasa ada yang tidak beres, aku coba-coba browsing di internet. Sampai aku temukan bahwa hal ini dinamakan FAM. Semacam tumor jinak. TUMOR??? Kedengarannya serem ya? Iya, waktu pertama aku tau juga langsung mikirnya macem-macem. Tapi aku mencoba positif thingking.
Akhirnya minggu terakhir ini, berhubung ada waktu libur sekitar 3 minggu. Aku memberanikan diri memeriksakannya ke rumah sakit. Rumah sakit yang aku pilih adalah Rumah Sakit Emannue Klampok Banjarnegara. Jelas aku punya banyak pertimbangan kenapa memilih rumah sakit ini. Singkatnya aku periksa di rumah sakit ini pada hari itu juga, Kamis 21 Agustus 2014
Aku berangkat pukul 9 dari rumah. Sebelumnya aku ke puskesmas Kejobong dahulu untuk meminta surat rujukan. Karena persyaratan dari penyedia layanan BPJS, apabila ingin mendapat fasilitas, harus mendapat rujukan dari faskes pertama yang dipilih terlebih dahulu.
Kemudian kami (Aku sama Mama) tiba di RS sekitar jam setengah 11.  Aku langsung mendaftarkan diri di bagian pendftaran, dan menyerahkan surat rujukan tadi di bagian bpjs. Setelah mendapat nomer urut (25), aku diminta menunggu di depan klinik bedah, karena aku memang dirujuk untuk periksa di dokter poli bedah. Cukup lama juga aku menunggu. Akhirnya sekitar pukul setengah 12 aku dipanggil. Begitu diperiksa oleh dokter Samuel dan perawat Theresia (itu namanya kalo nggak salah), aku disuruh diperiksa USG di bagian radiologi, dengan dokter dan perawat yang sama, jadi tidak perlu mendaftar lagi untuk bagian ini.
Dari hasil USG, dokter mendiagnosa aku memiliki FAM dengan diameter 3,69 cm. Itu termasuk giant FAM. Kemudian dokter menawarkan untuk diangkat. Tapi tidak memaksa, itu hanya saran. Dokter juga bilang kalau memang mau diangkat saat itu juga, dari dokternya siap. Mama pun menanyakannya kepadaku, kira-kira siap tidak kalau langsung diangkat saat itu juga.
Entah kenapa, ditanya seperti itu, aku langsung punya jawaban tanpa berpikir sama sekali. Secara spontan aku mengatakan bahwa aku siap dioperasi. Langsung saja dokter mengurus segalanya.
Dari ruang radiologi, aku kembali ke klinik bedah. Beberapa saat kemudian aku disuruh untuk tes darah di bagian laboratoium. Lalu aku kembali ke klinik bedah. Selama beberapa saat aku menunggu. Kadang kala dipanggil dan kadang kala terlantar.
Di sela-sela menunggu aku merasa ingin ke toilet. Aku ke toilet ditemani mama. Namun begitu keluar toilet aku merasa semuanya menjadi gelap. Aku hampir pingsan. Aku sudah tidak memikirkan yang lain, langsung saja aku berlari menuju ruang tunggu klinik bedah untuk memulihkan kondisi. Melihat aku yang terduduk lemas, perawat Theresia menyuruhku istirahat di dalam klinik. Ketika di tensi, benar saja, tekanan darahku tergolong rendah.
Setelah kondisiku pulih, perawat menawariku mau diinfus sekarang atau tidak. Lagi-lagi, tanpa berpikir terlebih dahulu aku berkata iya. Kemudian semuanya berjalan lancar. Setelah itu aku masih terus menunggu sampai giliranku operasi. Menunggu rasanya lama sekali.
Sekitar pukul 4 sore aku diajak menuju ruang transit. Disana aku disuruh ganti pakaian operasi dan tiduran selagi menunggu. Ternyata banyak juga yang operasi saat itu. Ada yang gondok, ada juga yang tumor di perut.
Entah kenapa bukannya rasa antusiasku semakin besar. Aku bersemangat sekali menjalani operasi ini. Apabila orang lain merasa khawatir di operasi pertamanya, aku justru merasa PENASARAN. Rasa penasaranku semakin menggebu-gebu saat aku menempati ruang operasi. Ada banyak monitor, alat-alat medis. Ada juga 2 lampu besar yang sejajar dengan bagian kepala dan perutku. Persis seperti yang ada di drama-drama kedokteran yang sering aku tonton.
Pelaku operasi yang menanganiku kebanyakan laki-laki. Dan mereka terus berusaha membangkitkan mood baikku. Dari pertama kali aku masuk ruang operasi sampai aku hampir di bius, mereka selalu mengajakku bercanda.  Akhirnya aku disuntik obat bius hingga akhirnya aku nggak ingat apa-apa lagi.
Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah ruangan penuh alat medis sendirian. Sayup-sayup aku mendengar suara adzan (dramatis banget yaaa – red). Aku cuma membuka mata tanpa bisa melakukan apapun. Karena bekas operasi aku rasakan SAKIT SEKALI. Aku sampai menangis disitu saking sakitnya. Tiba-tiba seorang perawat laki-laki dengan pakaian operasinya datang menghampiriku.
“Mbak Nur sakit ya?”
Aku hanya menjawab “iya” lirih, masih dengan menangis. Kemudian perawat tersebut menyuntikkan obat. Katanya, tadi sudah diberi obat, tapi karena aku merasa kesakitan jadi diberi double.
Beberapa saat setelahnya, aku dipindah ke kamar pasien biasa, tapi aku masih terus merasa sakit. SUER, itu abis operasi jauh lebih sakit daripada belum operasi (yaiyalah orang sebelumnya nggak kerasa apa-apa -_-) udah gitu pindah-pindah kamar terus pula, sampe akhirnya aku bisa istirahat tenang di ruang Siloam 8B.
Yah itu cerita narasi tentang pengalamanku. Sekalipun mungkin kurang bermutu, tapi aku yakin, setiap peristiwa pasti bisa kita ambil hikmahnya.
Untuk teman-teman yang belum pernah mengalami, semoga tidak akan mengalami.
Untuk teman-teman yang sedang mengalami, semoga cepat diberi kesembuhan dan tidak pernah mengalami lagi.
Untuk teman-teman yang sudah pernah mengalami, kalian HEBAT!!! #loh =D
Akhir kata, Nur Dian Haznawati mengucapkan terimakasih atas waktunya.
~Let’s Write~

0 komentar:

Post a Comment