Selamat pagi,
siang, malam, atau kapanpun dimana para pembaca berada!
Pada kesempatan
kali ini aku mau curhat total tentang pengalamanku beberapa waktu lalu.
Tepatnya pada hari Kamis tanggal 21 Agustus 2014 lalu, aku baru saja menjalani
pengalaman pertamaku menjadi pasien di ruang operasi!
Sekitar 2 bulan
sebelumnya, aku merasa ada sesuatu yang lain di payudaraku. Semacam benjolan
yang cukup besar, tetapi tidak terasa sakit. Dan benjolan ini hanya ada di
salah satu payudara, kalau aku sebelah kanan bawah. Karena merasa ada yang
tidak beres, aku coba-coba browsing di internet. Sampai aku temukan bahwa hal
ini dinamakan FAM. Semacam tumor jinak. TUMOR??? Kedengarannya serem ya? Iya,
waktu pertama aku tau juga langsung mikirnya macem-macem. Tapi aku mencoba
positif thingking.
Akhirnya minggu
terakhir ini, berhubung ada waktu libur sekitar 3 minggu. Aku memberanikan diri
memeriksakannya ke rumah sakit. Rumah sakit yang aku pilih adalah Rumah Sakit
Emannue Klampok Banjarnegara. Jelas aku punya banyak pertimbangan kenapa
memilih rumah sakit ini. Singkatnya aku periksa di rumah sakit ini pada hari
itu juga, Kamis 21 Agustus 2014
Aku berangkat
pukul 9 dari rumah. Sebelumnya aku ke puskesmas Kejobong dahulu untuk meminta
surat rujukan. Karena persyaratan dari penyedia layanan BPJS, apabila ingin
mendapat fasilitas, harus mendapat rujukan dari faskes pertama yang dipilih
terlebih dahulu.
Kemudian kami
(Aku sama Mama) tiba di RS sekitar jam setengah 11. Aku langsung mendaftarkan diri di bagian
pendftaran, dan menyerahkan surat rujukan tadi di bagian bpjs. Setelah mendapat
nomer urut (25), aku diminta menunggu di depan klinik bedah, karena aku memang
dirujuk untuk periksa di dokter poli bedah. Cukup lama juga aku menunggu.
Akhirnya sekitar pukul setengah 12 aku dipanggil. Begitu diperiksa oleh dokter
Samuel dan perawat Theresia (itu namanya kalo nggak salah), aku disuruh
diperiksa USG di bagian radiologi, dengan dokter dan perawat yang sama, jadi
tidak perlu mendaftar lagi untuk bagian ini.
Dari hasil USG,
dokter mendiagnosa aku memiliki FAM dengan diameter 3,69 cm. Itu termasuk giant
FAM. Kemudian dokter menawarkan untuk diangkat. Tapi tidak memaksa, itu hanya
saran. Dokter juga bilang kalau memang mau diangkat saat itu juga, dari
dokternya siap. Mama pun menanyakannya kepadaku, kira-kira siap tidak kalau
langsung diangkat saat itu juga.
Entah kenapa,
ditanya seperti itu, aku langsung punya jawaban tanpa berpikir sama sekali.
Secara spontan aku mengatakan bahwa aku siap dioperasi. Langsung saja dokter
mengurus segalanya.
Dari ruang
radiologi, aku kembali ke klinik bedah. Beberapa saat kemudian aku disuruh
untuk tes darah di bagian laboratoium. Lalu aku kembali ke klinik bedah. Selama
beberapa saat aku menunggu. Kadang kala dipanggil dan kadang kala terlantar.
Di sela-sela
menunggu aku merasa ingin ke toilet. Aku ke toilet ditemani mama. Namun begitu
keluar toilet aku merasa semuanya menjadi gelap. Aku hampir pingsan. Aku sudah
tidak memikirkan yang lain, langsung saja aku berlari menuju ruang tunggu
klinik bedah untuk memulihkan kondisi. Melihat aku yang terduduk lemas, perawat
Theresia menyuruhku istirahat di dalam klinik. Ketika di tensi, benar saja,
tekanan darahku tergolong rendah.
Setelah kondisiku
pulih, perawat menawariku mau diinfus sekarang atau tidak. Lagi-lagi, tanpa
berpikir terlebih dahulu aku berkata iya. Kemudian semuanya berjalan lancar.
Setelah itu aku masih terus menunggu sampai giliranku operasi. Menunggu rasanya
lama sekali.
Sekitar pukul 4
sore aku diajak menuju ruang transit. Disana aku disuruh ganti pakaian operasi
dan tiduran selagi menunggu. Ternyata banyak juga yang operasi saat itu. Ada
yang gondok, ada juga yang tumor di perut.
Entah kenapa
bukannya rasa antusiasku semakin besar. Aku bersemangat sekali menjalani
operasi ini. Apabila orang lain merasa khawatir di operasi pertamanya, aku
justru merasa PENASARAN. Rasa penasaranku semakin menggebu-gebu saat aku
menempati ruang operasi. Ada banyak monitor, alat-alat medis. Ada juga 2 lampu
besar yang sejajar dengan bagian kepala dan perutku. Persis seperti yang ada di
drama-drama kedokteran yang sering aku tonton.
Pelaku operasi
yang menanganiku kebanyakan laki-laki. Dan mereka terus berusaha membangkitkan
mood baikku. Dari pertama kali aku masuk ruang operasi sampai aku hampir di
bius, mereka selalu mengajakku bercanda.
Akhirnya aku disuntik obat bius hingga akhirnya aku nggak ingat apa-apa
lagi.
Saat aku membuka
mata, aku berada di sebuah ruangan penuh alat medis sendirian. Sayup-sayup aku
mendengar suara adzan (dramatis banget yaaa – red). Aku cuma membuka mata tanpa
bisa melakukan apapun. Karena bekas operasi aku rasakan SAKIT SEKALI. Aku
sampai menangis disitu saking sakitnya. Tiba-tiba seorang perawat laki-laki
dengan pakaian operasinya datang menghampiriku.
“Mbak Nur sakit
ya?”
Aku hanya
menjawab “iya” lirih, masih dengan menangis. Kemudian perawat tersebut
menyuntikkan obat. Katanya, tadi sudah diberi obat, tapi karena aku merasa
kesakitan jadi diberi double.
Beberapa saat
setelahnya, aku dipindah ke kamar pasien biasa, tapi aku masih terus merasa
sakit. SUER, itu abis operasi jauh lebih sakit daripada belum operasi (yaiyalah
orang sebelumnya nggak kerasa apa-apa -_-) udah gitu pindah-pindah kamar terus
pula, sampe akhirnya aku bisa istirahat tenang di ruang Siloam 8B.
Yah itu cerita
narasi tentang pengalamanku. Sekalipun mungkin kurang bermutu, tapi aku yakin,
setiap peristiwa pasti bisa kita ambil hikmahnya.
Untuk teman-teman
yang belum pernah mengalami, semoga tidak akan mengalami.
Untuk teman-teman
yang sedang mengalami, semoga cepat diberi kesembuhan dan tidak pernah
mengalami lagi.
Untuk teman-teman
yang sudah pernah mengalami, kalian HEBAT!!! #loh =D
Akhir kata, Nur
Dian Haznawati mengucapkan terimakasih atas waktunya.
~Let’s Write~
0 komentar:
Post a Comment