Friday, 22 March 2013

[CERPEN] Tangga Lantai 2




“Aku terlahir sebagai laki-laki. Dan itu merupakan satu hal yang paling Aku sesali di kehidupanku ini. Jangan tanya mengapa, Aku sedang tak ingin bercerita tentang ini, kepadamu.”
N
ama cowok itu Adryan. Mahasiswa semester 6 jurusan Teknik Elektro di salah satu PTN favorit di Semarang.  Sepintas, dilihat dari penampilannya dia memang cowok. Tapi apabila di terawang lebih jauh, dia lebih cocok jadi cewek. Wajahnya halus tanpa noda sedikitpun. Kulitnya lembut dan bentuk tubuhnya ramping. Suaranya tidak terlalu berat. Cara berjalannya pun anggun. Bahkan, lesung pipinya membuat senyumnya lebih sempurna. Tapi tak berarti ia buruk untuk penilaian sebagai cowok. Kalo dibandingkan dengan personil
boyband SMASH, tentu mereka kalah jauh. Siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali tak akan berpikir bahwa cowok dengan nilai IP tidak pernah di bawah 3,7 ini belum pernah menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita.
            Bagi cowok yang satu ini, tidaklah sulit untuk menaklukan hati cewek yang ia inginkan. Namun untuk menyembunyikan perasaan yang paling mendalam, itulah hal yang tersulit. Terlebih kepada orang yang . . .
***
            Pada jam-jam kuliah sore seperti ini, kampus mulai ramai. Meskipun Adryan sudah mengasingkan diri di sudut atap gedung Fakultas Teknik, rupanya suara, jeritan, dan gelak tawa manusia-manusia alay itu masih bisa menyusup mengganggu konsentrasinya. Dasar, suara duniawi.
            ‘Kalau kaya gini terus, Gue nggak bakal bisa nyelesein jurnal ini sekarang’ pikir Adryan. Akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari situ. Berharap EXOTIC – cafe dekat kampus – tidak terlalu banyak pengunjung karena jam makan siang sudah lewat, melihat arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul 3 sore.
            Tanpa membuang-buang waktu, Adryan membereskan barang-barangnya dan bergegas turun ke lantai bawah. Namun baru saja ia sampai di depan tangga , tiba-tiba . . .
BRUKK !
Entah darimana datangnya, sebuah benda datang dari arah berlawanan dengan kecepatan v, sehingga terjadi tumbukan lenting sempurna. Adryan? Tentu saja jatuh tersungkur ke belakang, sama seperti yang terjadi pada cowok yang berjarak 5 meter di depannya. Melihat cowok itu, Adryan mengendus kesal.
“Apa-apan sih loe, Junn?! Dikejar-kejar setan, atau dikejar-kejar dosen killer?” Umpat Adryan seraya bangkit dari jatuhnya. Kemudian pergi tanpa basa-basi diantara keduanya.
Junna, teman satu rumah yang sehari-harinya tak pernah absen mengumbar senyum. Bagi Adryan, Junna sangatlah berarti. Dia sudah menjadi sahabat terbaiknya. Mereka sudah seperti saudara kembar saja, sering bertengkar namun sebenarnya saling membutuhkan dan saling membantu.
“Tunggu dong, Yan. Gue ada perlu sama loe. Bentar aja.” Pegangan tangan Junna menghentikan langkahnya.
“Oh, loe nyariin Gue tadi?”
“Temenin Gue ke Gallery dong, laper nih.” Tanpa mempedulikan sikap ketus Adryan, Junna menyampaikan maksudnya dengan senyum merayu. Tak ada jawaban, malah Adryan melanjutkan langkahnya. Tapi Junna tak kehilangan akal. Ditariknya tangan Adryan dengan nyengir kuda sambil mengedip-ngedipkan matanya. Benar saja, Adryan tak kuasa menahan senyum.
“Ah, Loe Junn. Loe mau ngrayu apa mau nglawak sih.”
“Tapi ampuh kan, hehee. Jadi gimana, Loe mau kan?”
“Emmmm, nggak!”
“Lah kok gitu?”
“Buat apa Junn, Loe kira gue nggak tahu sifat Loe. Loe mau ngenalin gue sama cewek-cewek aneh itu lagi kan? Ogah Gue!” Jawaban Adryan ini membuat raut wajah Junna berubah, menunduk kecewa. Kemudian duduk di tangga menuju lantai 2.
‘Loh, kok jadi gini sih? Junna lagi akting bukan sih? Jangan-jangan ini cuma triknya dia aja. Tapi Junna engga pernah kaya gini sebelumnya. Apa tadi Gue salah ngomong yah,’ Batin Adryan. Ia jadi merasa tidak enak hati melihat Junna seperti itu. Agak ragu, ia mendekati Junna, menjejeri duduknya.
“Loe kenapa, Junn?” Adryan bertanya lirih.
“Gue heran sama Loe, Yan.”
“Emang ada yang salah, Junn?”
“Nggak kok. Gue cuma heran aja. Kenapa sih loe nggak mau terima maksud baik Gue. Gue kan cuma mau bantu Loe, Yan. Gue pengin ada yang bisa dampingin Loe.”
“Sorry, Junn. Gue bukannya nggak mau terima maksud baik Loe. Gue sama sekali nggak ada niat apa-apa. Gue cuma . . .”
“Cuma apa, Yan? Yan, please kali ini Loe dengerin Gue. Loe itu cakep, pinter, tajir. Loe itu beruntung, Yan. Karena Loe punya semua yang lebih dibanding cowok lain. Loe berhak dapetin pendamping yang terbaik, Yan.” Junna memandang Adryan dalam-dalam. Sementara yang dipandang tengah terpesona mendengar pujian-pujian itu.
“Iya, Gue tahu itu Junn. Gue emang berhak dapetin itu. Tapi Bukan kewajiban Gue buat mengumbar isi hati Gue. Sebelumnya Gue berterima kasih banget sama loe. Tapi Gue engga pengin orang lain suka sama Gue gara-gara itu semua. Gue juga punya perasaan kali, Junn. Bukannya Loe udah kenal Gue lama? Kalo Loe terus-terusan nglakuin ini semua, berarti Loe belum paham siapa Gue, blum ngerti perasaan Gue. Apa Gue engga boleh ikut nentuin siapa yang pantes buat Gue?!”
Terlihat jelas sekali, setelah Adryan bicara seperti itu, Junna sedikit terkejut. Adryan pun tak sadar, entah dapat pikiran darimana ia bisa mengatakan semua itu. Tapi ada sedikit kelegaan. Paling tidak, ia berharap semoga setelah ini Junna akan berhenti bertingkah konyol seperti itu lagi.
“Gue nggak salah denger kan tadi? Jadi maksudnya, Loe udah punya? Kok nggak pernah cerita?”
            “Gue nggak pengin ganggu pikiran Loe dengan cerita nggak penting kaya gitu.”
            “Nggak penting? Secara nggak langsung Loe udah bilang kalau usaha Gue selama ini buat Loe tuh nggak penting yah “
            “Bukan gitu, Junn. Gue . . . ” Adryan tak ada niat untuk melanjutkan ucapannya. Hanya ada hening diantara keduanya untuk beberapa saat.
            “Udahlah, Junn. Suatu saat juga Loe pasti bakal tahu. Mulai sekarang, berhenti Loe mentingin Gue. Karena bagi Gue, kebahagiaan Loe itu yang terpenting.” Adryan bangkit, beranjak pergi.
            “Oh ya, satu lagi. Daripada Loe buang-buang waktu cari cewek buat Gue, lebih baik Loe selidikin tuh, ada hubungan apa antara Zaskia sama Anjas. Gue cabut.” Adryan sempat menoleh ke belakang, tersenyum namun tak digubris oleh Junna, ia pun pergi.
            Emang dasarnya si Junna tuh ‘lola’, setelah adryan tak terlihat sama sekali, ia baru tersadar, ‘Apa yah, maksud Adryan barusan? Zaskia sama Anjas? Perasaan hubungan Gue sama Zaskia masih baik-baik aja kok. Gue salah denger kali yah’ Percaya nggak percaya, kata-kata terakhir Adryan memang begitu mengusik pikiran Junna. Terlebih obroran mereka di tangga barusan. Tangga lantai 2.
***
            Mobil Junna berhenti pada jarak 30 meter di selatan perempatan, sedangkan lampu hijau masih menyala 63 detik lagi. Terlalu lama untuk suasana yang terik seperti ini. Sedikit malas sebenarnya untuk pulang ke rumah pukul setengah satuan seperti ini.  Sembari menunggu, mata Junna jelalatan kesana-kemari. Dan pada detik ke 28 sebelum lampu hijau, pandangannya berhenti di cafe tepi jalan, sisin kanannya. Zaskia! Cewek yang sudah dekat dengannya sejak 1,5 tahun yang lalu itu kini tengah makan siang  dengan seorang cowok lain! ‘Tunggu, sepertinya Gue kenal cowok itu.’ Junna mulai menajamkan matanya dan berpikir keras.
Diiinnnnn Diiinnnnnnnnn . . . !!!
Suara-suara klakson di belakang membuyarkan konsentrasinya. Junna memutar kemudinya, juga memutar otaknya. Menepi ke sisi kiri jalan. Tiba-tiba ia teringat kata-kata Adryan hari sebelumnya. ‘. . . Lebih baik Loe selidikin tuh, ada hubungan apa antara Zaskia sama Anjas. . . ’ Iya, tepat! Cowok barusan itu Anjas!
Junna masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. ‘Mungkin mereka emang lagi ada urusan kuliah berdua, mereka kan satu fakultas.’ Ia masih terus berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Tapi percuma. Rupanya pikirannya semakin terusik. POINT cafe itu memang tidak pernah ia datangi, karena untuk mencapai kampus dari rumahnya, ia tak perlu melewati perempatan itu. ‘Bukannya tadi Zaskia bilang sedang tidak enak badan dan ingin langsung pulang? Tapi mengapa. . . ’ Junna tak ingin terlalu banyak menuduh. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Zaskia.
Tuuuuutttt tuuuutttt
Sambil memandang keduanya dari jauh, Junna terus berusaha menghubungi Zaskia. Tiga kali panggilan, tersambung namun direject. Untuk keempat kalinya, barulah ada jawaban. Dan tepat seperti apa yang ia  tebak, cewek dari balik kaca cafe di seberang sana bangkit dari mejanya, mengangkat telepon.
“Sayang, lagi dimana kamu?” Junna mengawali sebagai basa-basi. Masih .berharap zaskia akan berkata jujur. Paling tidak, untuk posisinya sekarang
“Sorry, yang, Aku lagi di jalan pulang. Nanti aku hubungin kamu lagi yah, kalau udah sampai. Muaaach Sayang”
“...”
Tutt Tutt Tutt. Telepon dimatikan, tanpa memberi kesempatan Junna untuk bertanya apapun. Dan sepeerti apa yang ia duga, Cewek di seberang sana kembali ke mejanya. Kembali berceloteh mesra.
***
Ting Tong . . .
            Diluar hujan deras, disertai petir pula. Suara bell barusan pun hanya terdengar lirih. Lirih sekali. Mungkin orang yang diluar sudah membunyikannya ratusan kali hingga Adryan bisa menyadarinya. Tentu saja, suara selirih itu tak akan mampu menyusup sementara otaknya dipenuhi kalimat tanya. Bagaimana tidak, ini sudah larut tetapi Junna belum juga pulang. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Apalagi handphonenya dinonaktifkan. Ini jelas membuat Adryan semakin gundah. Tak ada kabar.
            Adryan mengintip dari balik gorden jendela samping pintu. Terlihat Junna yang tengah menggigil kedinginan dengan basah kuyup. Tentu, Adryan secara spontan segera membukakan pintu.
            “Ya ampun, Junn. Loe darimana aja sih?! Gue panik tahu nungguin Loe.” Adryan dengan sabar memapah Junna masuk sampai ruang tamu.
            “Loe tunggu sini dulu yah, Gue ambilin handuk sekalian bikin teh anget.”
Junna mencegat tangan Adryan. Seraya tersenyum, ia masih sempat berkata, “Thanks banget yah, Yan.”
“Iya, kaya sama siapa Loe ah.”
Setelah sekitar 3 menit, Adryan kembali dengan handuk dan teh hangat seperti yang ia janjikan tadi.
“Ini, Junn. Cepat gih, diminum. Biar badan Loe anget. Atau Loe mau mandi? Ntar biar Gue bikinin panas.”
“Nggak, Yan. Gue ganti baju aja.”
“Oh, gitu. Iya, itu baju Loe udah Gue siapin di kamar. Habis itu Gue mau dengerin cerita Loe. Junna mengangguk mengerti. Setelah air teh tinggal seperempat gelas, ia beranjak ke kamarnya
Setelah lima belas menit berlalu, Junna belum juga keluar dari kamarnya. Ada sedikit kehawatiran di benak Adryan.
Tok tok tok . . .
“Junn, boleh Gue masuk?” Tak ada jawaban dari dalam, namun pintu langsung dibukanya. Adryan segera masuk, menjejeri Junna duduk di atas ranjang
“Gue udah putus, Yan.” Adryan sedikit terkejut. Namun kemudian tersenyum.
“Lalu Loe nyesel?”
“Gue nggak tahu. Gue bingung, Yan. Gue yakin kalo Loe udah tahu lama soal ini. Tapi kenapa Loe nggak kasih tahu Gue dari awal?”
“Karena Gue nggak mau Loe benci sama Gue, Junn.”
“Maksud Loe?”
“Gue tahu, kalau Loe tuh sayang banget sama Zaskia. Dan diantara kalian berdua tuh emang nggak ada masalah apa-apa kan, makanya Gue nggak mau ngrusak hubungan kalian. Terlebih kalau hal itu keluar dari mulut Gue tanpa bukti. Loe pasti akan benci sama Gue.”
“Tapi kenapa Loe nggak berusaha nyari bukti? Bukankah dengan kaya gini Gue jadi lebih sakit hati?”
“Karena Gue sendiri nggak yakin dengan apa yang gue tahu. Gue tahu bahwa Zaskia sebenernya cewek yang baik. Gue Juga tau kalau doi tuh sayang banget sama Loe. Gue sendiri nggak tahu kenapa dia bisa berbuat demikian terhadap Loe. Tapi paling nggak, itu lebih baik karena Loe tahu itu dengan sendirinya tanpa pengaruh orang lain. Waktu di tangga, Gue pernah bilang kan, kalau kebahagiaan Loe adalah yang terpenting buat Gue. Makanya Gue nggak mau ngancurin kebahagiaan Loe sama Zaskia, sekalipun akhirnya akan jadi seperti ini. Tapi percayalah Junn, nggak pernah terpikikan sedikitpun di pikiran Gue buat nyakitin Loe.”.
 “Adryan, kenapa Loe bisa berpikir sampai sejauh itu? Bahkan Gue nggak pernah bisa melakukan apapun yang berguna buat Loe.”
“Karena rasa sayang Gue lah yang nyuruh Gue untuk melakukan ini semua. Gue sendiri nggak tahu perasaan apa ini. Yang jelas, Gue takut kehilangan Loe, Junn.” Adryan menggenggam tangan Junna, kemudian memeluknya erat. Yang depeluk hanya berdiam diri.
“Apakah ini maksud kata-kata Loe di tangga waktu itu?”
“Gue nggak tahu, Junn. Perasaan Gue kacau.” Adryan melepaskan pelukannya.
“Gue masih belum ngerti,”
“Junn, Loe dengerin Gue baik-baik. Mungkin ini hanya bagian dari pikiran Gue yang lagi kalut aja. Gue belum bisa ngontrol emosi Gue untuk saat ini. Gue mohon, Loe jangan berubah setelah ini. Gue masih butuh sahabat kaya Loe. Dan seperti apa yang Loe bilang waktu itu, Gue yakin kalau gue bisa dapetin pendamping yang pantes buat Gue. Gue akan buktiin itu, Junn. Loe percaya kan sama Gue?”
Junna masih bengong, ia sempat menepuk-nepuk pipinya ‘Ini mimpi bukan sih?’ Junna memejamkan matanya sejenak, kemudian merobohkan badannya ke atas ranjang.
“Eh, kok malah tiduran.Masa Loe nggak percaya sama Gue sih. Ayolah, Junn, Loe boleh berpikir sesuka hati Loe dan Loe boleh kok menganggap semua ini cuma mimpi.” Ujar Adryan, seperti mampu membaca pikiran Junna. Mendengar itu, Junna membuka matanya dan bangkit.
“Oke, Gue percaya. Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?”
“Gue kasih Loe waktu 4 bulan buat ngenalin cewek pilihan Loe.”
“Hey hey, 4 bulan terlalu singkat men.’
“No no no. DEAL? Or . . . ”
“Oke oke, DEAL!”
***
Masih seperti setahun yang lalu, sudut atap Fakultas Teknik menjadi tempat Adryan menyendiri untuk belajar. Namun berbeda dengan tahun lalu, ada sisi yang lain setiap Adryan beranjak turun. Seperti sabtu sore itu. Pukul 15.39, suasana di kampus sudah mulai sepi. Terlebih adanya lift baru di setiap lantai menyebabkan tangga di pojok lantai 2 sana tak banyak di lewati orang.
Sore itu, Adryan duduk di tangga lantai 2. Di waktu yang sama seperti setahun lalu. Hanya saja, kali ini Adryan sendirian. Berkali-kali ia lirik arlojinya, seperti menunggu kedatangan seseorang. Setelah sekitar 10 menit berlalu, lift lantai 2 itu terbuka, bagaikan mengantar bidadari yang baru turun dari kahyangan. Memunculkan gadis cantik dengan senyum mempesona. Berlari kecil mendekati Adryan.
“Maaf, Kak. Nunggu lama yah? Tadi Ingga mesti beresin lab dulu, jadi . . .”
“Sssssttttt, nggak papa kok, yang penting sekarang Ingga udah sampai disini kan?” Adryan tersenyum, memperlihatkan dengan jelas lesung pipinya.
“Tapi Ingga jadi ngrasa nggak enak.”
“Udah udah, Kakak beneran nggak papa kok. Sekarang ayo, temani Kakak.” Adryan mengacak lembut rambut gadis itu.
“Kita kemana, Kak?”
“Ke acara pertunangan teman Kakak.”
“Teman yang mana? Apakan yang dulu pernah satu rumah dengan Kakak itu?”
“Iya, Junna dengan Zaskia.”
Ingga mengangguk, masih dengan senyum mempesonanya. Adryan menggenggam erat tangan gadis itu, kemudian mereka berdua bersama-sama turun. Menuruni tangga menuju lantai satu. Meninggalkan kenangan indah di tangga lantai 2.
“Tak penting terlahir sebagai apa Aku ke dunia. Yang terpenting, Aku telah mengerti cinta, dan Aku telah diberi keberanian untuk mengungkapkannya.”
                                                                             ***

0 komentar:

Post a Comment