“Aku terlahir sebagai laki-laki. Dan itu merupakan satu hal yang paling Aku sesali di kehidupanku ini. Jangan tanya mengapa, Aku sedang tak ingin bercerita tentang ini, kepadamu.”
N
|
ama cowok itu Adryan. Mahasiswa semester
6 jurusan Teknik Elektro di salah satu PTN favorit di Semarang. Sepintas, dilihat dari penampilannya dia
memang cowok. Tapi apabila di terawang lebih jauh, dia lebih cocok jadi cewek.
Wajahnya halus tanpa noda sedikitpun. Kulitnya lembut dan bentuk tubuhnya
ramping. Suaranya tidak terlalu berat. Cara berjalannya pun anggun. Bahkan,
lesung pipinya membuat senyumnya lebih sempurna. Tapi tak berarti ia buruk
untuk penilaian sebagai cowok. Kalo dibandingkan dengan personil
boyband SMASH,
tentu mereka kalah jauh. Siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali tak akan
berpikir bahwa cowok dengan nilai IP tidak pernah di bawah 3,7 ini belum pernah
menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita.
Bagi
cowok yang satu ini, tidaklah sulit untuk menaklukan hati cewek yang ia
inginkan. Namun untuk menyembunyikan perasaan yang paling mendalam, itulah hal
yang tersulit. Terlebih kepada orang yang . . .
***
Pada
jam-jam kuliah sore seperti ini, kampus mulai ramai. Meskipun Adryan sudah
mengasingkan diri di sudut atap gedung Fakultas Teknik, rupanya suara, jeritan,
dan gelak tawa manusia-manusia alay itu masih bisa menyusup mengganggu
konsentrasinya. Dasar, suara duniawi.
‘Kalau kaya gini terus, Gue nggak bakal bisa
nyelesein jurnal ini sekarang’ pikir Adryan. Akhirnya ia memutuskan untuk
beranjak dari situ. Berharap EXOTIC – cafe dekat kampus – tidak terlalu banyak
pengunjung karena jam makan siang sudah lewat, melihat arloji di tangannya
sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Tanpa
membuang-buang waktu, Adryan membereskan barang-barangnya dan bergegas turun ke
lantai bawah. Namun baru saja ia sampai di depan tangga , tiba-tiba . . .
BRUKK !
Entah darimana
datangnya, sebuah benda datang dari arah berlawanan dengan kecepatan v, sehingga
terjadi tumbukan lenting sempurna. Adryan? Tentu saja jatuh tersungkur ke
belakang, sama seperti yang terjadi pada cowok yang berjarak 5 meter di
depannya. Melihat cowok itu, Adryan mengendus kesal.
“Apa-apan sih
loe, Junn?! Dikejar-kejar setan, atau dikejar-kejar dosen killer?” Umpat Adryan
seraya bangkit dari jatuhnya. Kemudian pergi tanpa basa-basi diantara keduanya.
Junna, teman
satu rumah yang sehari-harinya tak pernah absen mengumbar senyum. Bagi Adryan,
Junna sangatlah berarti. Dia sudah menjadi sahabat terbaiknya. Mereka sudah
seperti saudara kembar saja, sering bertengkar namun sebenarnya saling
membutuhkan dan saling membantu.
“Tunggu dong,
Yan. Gue ada perlu sama loe. Bentar aja.” Pegangan tangan Junna menghentikan
langkahnya.
“Oh, loe nyariin
Gue tadi?”
“Temenin Gue ke
Gallery dong, laper nih.” Tanpa mempedulikan sikap ketus Adryan, Junna
menyampaikan maksudnya dengan senyum merayu. Tak ada jawaban, malah Adryan
melanjutkan langkahnya. Tapi Junna tak kehilangan akal. Ditariknya tangan
Adryan dengan nyengir kuda sambil mengedip-ngedipkan matanya. Benar saja,
Adryan tak kuasa menahan senyum.
“Ah, Loe Junn.
Loe mau ngrayu apa mau nglawak sih.”
“Tapi ampuh kan,
hehee. Jadi gimana, Loe mau kan?”
“Emmmm, nggak!”
“Lah kok gitu?”
“Buat apa Junn,
Loe kira gue nggak tahu sifat Loe. Loe mau ngenalin gue sama cewek-cewek aneh
itu lagi kan? Ogah Gue!” Jawaban Adryan ini membuat raut wajah Junna berubah,
menunduk kecewa. Kemudian duduk di tangga menuju lantai 2.
‘Loh,
kok jadi gini sih? Junna lagi akting bukan sih? Jangan-jangan ini cuma triknya
dia aja. Tapi Junna engga pernah kaya gini sebelumnya. Apa tadi Gue salah
ngomong yah,’ Batin Adryan. Ia jadi merasa tidak enak
hati melihat Junna seperti itu. Agak ragu, ia mendekati Junna, menjejeri
duduknya.
“Loe kenapa,
Junn?” Adryan bertanya lirih.
“Gue heran sama
Loe, Yan.”
“Emang ada yang
salah, Junn?”
“Nggak kok. Gue
cuma heran aja. Kenapa sih loe nggak mau terima maksud baik Gue. Gue kan cuma
mau bantu Loe, Yan. Gue pengin ada yang bisa dampingin Loe.”
“Sorry, Junn.
Gue bukannya nggak mau terima maksud baik Loe. Gue sama sekali nggak ada niat
apa-apa. Gue cuma . . .”
“Cuma apa, Yan?
Yan, please kali ini Loe dengerin Gue. Loe itu cakep, pinter, tajir. Loe itu
beruntung, Yan. Karena Loe punya semua yang lebih dibanding cowok lain. Loe
berhak dapetin pendamping yang terbaik, Yan.” Junna memandang Adryan
dalam-dalam. Sementara yang dipandang tengah terpesona mendengar pujian-pujian
itu.
“Iya, Gue tahu
itu Junn. Gue emang berhak dapetin itu. Tapi Bukan kewajiban Gue buat mengumbar
isi hati Gue. Sebelumnya Gue berterima kasih banget sama loe. Tapi Gue engga
pengin orang lain suka sama Gue gara-gara itu semua. Gue juga punya perasaan
kali, Junn. Bukannya Loe udah kenal Gue lama? Kalo Loe terus-terusan nglakuin
ini semua, berarti Loe belum paham siapa Gue, blum ngerti perasaan Gue. Apa Gue
engga boleh ikut nentuin siapa yang pantes buat Gue?!”
Terlihat jelas
sekali, setelah Adryan bicara seperti itu, Junna sedikit terkejut. Adryan pun
tak sadar, entah dapat pikiran darimana ia bisa mengatakan semua itu. Tapi ada
sedikit kelegaan. Paling tidak, ia berharap semoga setelah ini Junna akan
berhenti bertingkah konyol seperti itu lagi.
“Gue nggak salah
denger kan tadi? Jadi maksudnya, Loe udah punya? Kok nggak pernah cerita?”
“Gue
nggak pengin ganggu pikiran Loe dengan cerita nggak penting kaya gitu.”
“Nggak
penting? Secara nggak langsung Loe udah bilang kalau usaha Gue selama ini buat
Loe tuh nggak penting yah “
“Bukan
gitu, Junn. Gue . . . ” Adryan tak ada niat untuk melanjutkan ucapannya. Hanya
ada hening diantara keduanya untuk beberapa saat.
“Udahlah,
Junn. Suatu saat juga Loe pasti bakal tahu. Mulai sekarang, berhenti Loe
mentingin Gue. Karena bagi Gue, kebahagiaan Loe itu yang terpenting.” Adryan
bangkit, beranjak pergi.
“Oh
ya, satu lagi. Daripada Loe buang-buang waktu cari cewek buat Gue, lebih baik
Loe selidikin tuh, ada hubungan apa antara Zaskia sama Anjas. Gue cabut.”
Adryan sempat menoleh ke belakang, tersenyum namun tak digubris oleh Junna, ia
pun pergi.
Emang
dasarnya si Junna tuh ‘lola’, setelah
adryan tak terlihat sama sekali, ia baru tersadar, ‘Apa yah, maksud Adryan barusan? Zaskia sama Anjas? Perasaan hubungan
Gue sama Zaskia masih baik-baik aja kok. Gue salah denger kali yah’ Percaya
nggak percaya, kata-kata terakhir Adryan memang begitu mengusik pikiran Junna.
Terlebih obroran mereka di tangga barusan. Tangga lantai 2.
***
Mobil
Junna berhenti pada jarak 30 meter di selatan perempatan, sedangkan lampu hijau
masih menyala 63 detik lagi. Terlalu lama untuk suasana yang terik seperti ini.
Sedikit malas sebenarnya untuk pulang ke rumah pukul setengah satuan seperti
ini. Sembari menunggu, mata Junna
jelalatan kesana-kemari. Dan pada detik ke 28 sebelum lampu hijau, pandangannya
berhenti di cafe tepi jalan, sisin kanannya. Zaskia! Cewek yang sudah dekat
dengannya sejak 1,5 tahun yang lalu itu kini tengah makan siang dengan seorang cowok lain! ‘Tunggu, sepertinya Gue kenal cowok itu.’
Junna mulai menajamkan matanya dan berpikir keras.
Diiinnnnn Diiinnnnnnnnn . . . !!!
Suara-suara
klakson di belakang membuyarkan konsentrasinya. Junna memutar kemudinya, juga
memutar otaknya. Menepi ke sisi kiri jalan. Tiba-tiba ia teringat kata-kata
Adryan hari sebelumnya. ‘. . . Lebih baik
Loe selidikin tuh, ada hubungan apa antara Zaskia sama Anjas. . . ’ Iya,
tepat! Cowok barusan itu Anjas!
Junna masih
setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. ‘Mungkin mereka emang lagi ada urusan kuliah berdua, mereka kan satu
fakultas.’ Ia masih terus berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Tapi
percuma. Rupanya pikirannya semakin terusik. POINT cafe itu memang tidak pernah
ia datangi, karena untuk mencapai kampus dari rumahnya, ia tak perlu melewati
perempatan itu. ‘Bukannya tadi Zaskia
bilang sedang tidak enak badan dan ingin langsung pulang? Tapi mengapa. . . ’ Junna
tak ingin terlalu banyak menuduh. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi
Zaskia.
Tuuuuutttt
tuuuutttt
Sambil memandang
keduanya dari jauh, Junna terus berusaha menghubungi Zaskia. Tiga kali
panggilan, tersambung namun direject.
Untuk keempat kalinya, barulah ada jawaban. Dan tepat seperti apa yang ia tebak, cewek dari balik kaca cafe di seberang
sana bangkit dari mejanya, mengangkat telepon.
“Sayang, lagi
dimana kamu?” Junna mengawali sebagai basa-basi. Masih .berharap zaskia akan
berkata jujur. Paling tidak, untuk posisinya sekarang
“Sorry, yang,
Aku lagi di jalan pulang. Nanti aku hubungin kamu lagi yah, kalau udah sampai.
Muaaach Sayang”
“...”
Tutt Tutt Tutt.
Telepon dimatikan, tanpa memberi kesempatan Junna untuk bertanya apapun. Dan
sepeerti apa yang ia duga, Cewek di seberang sana kembali ke mejanya. Kembali
berceloteh mesra.
***
Ting Tong . . .
Diluar
hujan deras, disertai petir pula. Suara bell barusan pun hanya terdengar lirih.
Lirih sekali. Mungkin orang yang diluar sudah membunyikannya ratusan kali
hingga Adryan bisa menyadarinya. Tentu saja, suara selirih itu tak akan mampu
menyusup sementara otaknya dipenuhi kalimat tanya. Bagaimana tidak, ini sudah
larut tetapi Junna belum juga pulang. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini.
Apalagi handphonenya dinonaktifkan.
Ini jelas membuat Adryan semakin gundah. Tak ada kabar.
Adryan
mengintip dari balik gorden jendela samping pintu. Terlihat Junna yang tengah
menggigil kedinginan dengan basah kuyup. Tentu, Adryan secara spontan segera
membukakan pintu.
“Ya
ampun, Junn. Loe darimana aja sih?! Gue panik tahu nungguin Loe.” Adryan dengan
sabar memapah Junna masuk sampai ruang tamu.
“Loe
tunggu sini dulu yah, Gue ambilin handuk sekalian bikin teh anget.”
Junna mencegat
tangan Adryan. Seraya tersenyum, ia masih sempat berkata, “Thanks banget yah,
Yan.”
“Iya, kaya sama
siapa Loe ah.”
Setelah sekitar
3 menit, Adryan kembali dengan handuk dan teh hangat seperti yang ia janjikan
tadi.
“Ini, Junn.
Cepat gih, diminum. Biar badan Loe anget. Atau Loe mau mandi? Ntar biar Gue
bikinin panas.”
“Nggak, Yan. Gue
ganti baju aja.”
“Oh, gitu. Iya,
itu baju Loe udah Gue siapin di kamar. Habis itu Gue mau dengerin cerita Loe.
Junna mengangguk mengerti. Setelah air teh tinggal seperempat gelas, ia
beranjak ke kamarnya
Setelah lima
belas menit berlalu, Junna belum juga keluar dari kamarnya. Ada sedikit
kehawatiran di benak Adryan.
Tok tok tok . .
.
“Junn, boleh Gue
masuk?” Tak ada jawaban dari dalam, namun pintu langsung dibukanya. Adryan
segera masuk, menjejeri Junna duduk di atas ranjang
“Gue udah putus,
Yan.” Adryan sedikit terkejut. Namun kemudian tersenyum.
“Lalu Loe
nyesel?”
“Gue nggak tahu.
Gue bingung, Yan. Gue yakin kalo Loe udah tahu lama soal ini. Tapi kenapa Loe
nggak kasih tahu Gue dari awal?”
“Karena Gue
nggak mau Loe benci sama Gue, Junn.”
“Maksud Loe?”
“Gue tahu, kalau
Loe tuh sayang banget sama Zaskia. Dan diantara kalian berdua tuh emang nggak
ada masalah apa-apa kan, makanya Gue nggak mau ngrusak hubungan kalian.
Terlebih kalau hal itu keluar dari mulut Gue tanpa bukti. Loe pasti akan benci
sama Gue.”
“Tapi kenapa Loe
nggak berusaha nyari bukti? Bukankah dengan kaya gini Gue jadi lebih sakit
hati?”
“Karena Gue
sendiri nggak yakin dengan apa yang gue tahu. Gue tahu bahwa Zaskia sebenernya
cewek yang baik. Gue Juga tau kalau doi tuh sayang banget sama Loe. Gue sendiri
nggak tahu kenapa dia bisa berbuat demikian terhadap Loe. Tapi paling nggak,
itu lebih baik karena Loe tahu itu dengan sendirinya tanpa pengaruh orang lain.
Waktu di tangga, Gue pernah bilang kan, kalau kebahagiaan Loe adalah yang
terpenting buat Gue. Makanya Gue nggak mau ngancurin kebahagiaan Loe sama
Zaskia, sekalipun akhirnya akan jadi seperti ini. Tapi percayalah Junn, nggak
pernah terpikikan sedikitpun di pikiran Gue buat nyakitin Loe.”.
“Adryan, kenapa Loe bisa berpikir sampai
sejauh itu? Bahkan Gue nggak pernah bisa melakukan apapun yang berguna buat
Loe.”
“Karena rasa
sayang Gue lah yang nyuruh Gue untuk melakukan ini semua. Gue sendiri nggak
tahu perasaan apa ini. Yang jelas, Gue takut kehilangan Loe, Junn.” Adryan
menggenggam tangan Junna, kemudian memeluknya erat. Yang depeluk hanya berdiam
diri.
“Apakah ini
maksud kata-kata Loe di tangga waktu itu?”
“Gue nggak tahu,
Junn. Perasaan Gue kacau.” Adryan melepaskan pelukannya.
“Gue masih belum
ngerti,”
“Junn, Loe dengerin
Gue baik-baik. Mungkin ini hanya bagian dari pikiran Gue yang lagi kalut aja.
Gue belum bisa ngontrol emosi Gue untuk saat ini. Gue mohon, Loe jangan berubah
setelah ini. Gue masih butuh sahabat kaya Loe. Dan seperti apa yang Loe bilang
waktu itu, Gue yakin kalau gue bisa dapetin pendamping yang pantes buat Gue.
Gue akan buktiin itu, Junn. Loe percaya kan sama Gue?”
Junna masih
bengong, ia sempat menepuk-nepuk pipinya ‘Ini
mimpi bukan sih?’ Junna memejamkan matanya sejenak, kemudian merobohkan
badannya ke atas ranjang.
“Eh, kok malah
tiduran.Masa Loe nggak percaya sama Gue sih. Ayolah, Junn, Loe boleh berpikir
sesuka hati Loe dan Loe boleh kok menganggap semua ini cuma mimpi.” Ujar
Adryan, seperti mampu membaca pikiran Junna. Mendengar itu, Junna membuka
matanya dan bangkit.
“Oke, Gue
percaya. Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?”
“Gue kasih Loe
waktu 4 bulan buat ngenalin cewek pilihan Loe.”
“Hey hey, 4
bulan terlalu singkat men.’
“No no no. DEAL?
Or . . . ”
“Oke oke, DEAL!”
***
Masih seperti
setahun yang lalu, sudut atap Fakultas Teknik menjadi tempat Adryan menyendiri
untuk belajar. Namun berbeda dengan tahun lalu, ada sisi yang lain setiap
Adryan beranjak turun. Seperti sabtu sore itu. Pukul 15.39, suasana di kampus
sudah mulai sepi. Terlebih adanya lift baru di setiap lantai menyebabkan tangga
di pojok lantai 2 sana tak banyak di lewati orang.
Sore itu, Adryan
duduk di tangga lantai 2. Di waktu yang sama seperti setahun lalu. Hanya saja,
kali ini Adryan sendirian. Berkali-kali ia lirik arlojinya, seperti menunggu
kedatangan seseorang. Setelah sekitar 10 menit berlalu, lift lantai 2 itu
terbuka, bagaikan mengantar bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Memunculkan gadis cantik dengan senyum mempesona. Berlari kecil mendekati
Adryan.
“Maaf, Kak. Nunggu
lama yah? Tadi Ingga mesti beresin lab dulu, jadi . . .”
“Sssssttttt,
nggak papa kok, yang penting sekarang Ingga udah sampai disini kan?” Adryan
tersenyum, memperlihatkan dengan jelas lesung pipinya.
“Tapi Ingga jadi
ngrasa nggak enak.”
“Udah udah, Kakak
beneran nggak papa kok. Sekarang ayo, temani Kakak.” Adryan mengacak lembut
rambut gadis itu.
“Kita kemana,
Kak?”
“Ke acara
pertunangan teman Kakak.”
“Teman yang
mana? Apakan yang dulu pernah satu rumah dengan Kakak itu?”
“Iya, Junna
dengan Zaskia.”
Ingga
mengangguk, masih dengan senyum mempesonanya. Adryan menggenggam erat tangan
gadis itu, kemudian mereka berdua bersama-sama turun. Menuruni tangga menuju
lantai satu. Meninggalkan kenangan indah di tangga lantai 2.
“Tak
penting terlahir sebagai apa Aku ke dunia. Yang terpenting, Aku telah mengerti
cinta, dan Aku telah diberi keberanian untuk mengungkapkannya.”
***

0 komentar:
Post a Comment