Tuesday, 21 April 2015

Cerpen: Tatapan Indira





Oleh: Nur Dian Haznawati


“Sejak kapan lo  punya adek?”
Indira menghetikan langkahnya di anak tangga ke 7 dari lantai dasar. Matanya balik menatapku lekat-lekat. Sangat misterius. Sudah beberapa kali sejak aku tinggal di rumah ini, ia menatapku demikian, dan aku belum mampu memaknainya. Membuat hatiku ciut, tapi digandrungi banyak tanda tanya dan rasa penasaran.

Aku mengalah, mengalihkan pandanganku ke Viona yang masih berdiri tegap di samping guci antik kesayangan tante Indah. Ia masih menunggu jawaban dari Indira. Indira seperti memahami ketidakinginanku ditatap seperti itu, ia melanjutkan langkahnya dengan anggun. Ia hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Kemudian menggandeng Viona keluar rumah.

Pandanganku mengantarnya hingga tidak terlihat. Indira benar-benar terlihat anggun di mataku. Bahkan dari belakang sekalipun. Indira memiliki tubuh yang sehat dan ideal, ia juga memiliki kulit yang putih mulus. Rambutnya hitam lurus di kuncir, memperlihatkan sosoknya yang cerdas. Dengan sosok cantik yang demikian, Indira sama sekali bukan tipe gadis kota yang sombong dan suka hura-hura. Ia selalu menghabisakan waktunya untuk berbagai jenis les dan pelatihan. Sungguh, dia adalah wanita Indonesia yang paling aku kagumi sampai saat ini. Bahkan dibanding ibu kandungku sendiri yang selalu keluar malam.

*

Aroma gudang rumah ini semakin lekat dalam benakku. Karena keterbatasan ruang gerakku di rumah ini, rasanya hanya gudang tempat aku bisa leluasa untuk bernafas. Banyak hal yang bisa aku lakukan di sini. Bernyanyi, belajar, dan memainkan berbagai jenis mainan usang masa kecil Indira.
Ini tidak sekejam kisah anak tiri yang sehari-harinya terkurung di dalam gudang. Fasilitas kamar tidur yang disiapkan oleh ayah kandungku terbilang cukup mewah. Tapi aku cukup tahu diri dalam bersikap. Terlebih mengingat reaksi tante Indah dan Indira ketika aku pertama kali masuk ke kehidupan mereka.

“Jujur aku nggak bisa terima kenyataan ini, Mas. Kepercayaanku udah kamu rusak. Terserah mau kamu apa, yang jelas aku nggak akan memperdulikan anak ini, setidaknya hati nuraniku sebagai seorang ibu masih berjalan. Tapi aku tidak menjamin sikapku sama mas masih sama seperti sebelumnya.” Tante Indah masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di sana. Tersirat perasaan kacau dan bersalah di wajah orang yang mulai bisa aku panggil ayah itu.

“Indira juga marah sama Ayah?” Ayah berusaha menguntai senyum.

“Indira kecewa yah, tapi Indira percaya sekarang Ayah udah nggak kaya gitu lagi. Biar Indira bantu nenangin hati Bunda.” Indira memberikan tatapan misterius padaku sesaat itu, kemudian beranjak menyusul tante Indah. Ayah sendiri sama sekali tidak menyesali kedatanganku. Ia menyiapkan kamar tamu untuk aku tinggali.

Pada malam pertama aku di sana, beliau memintaku bercerita banyak tentang hidupku sebelumnya, dan tentang ibuku yang pernah menjadi gadis simpanannya. Tentu saja aku menceritakan semua yang tersimpan dalam otak dan benakku, hingga Ayah tak kuasa menahan air matanya.  Ketika itu, aku sekilas mendapati Indira menutup mulutnya, menahan agar tangisnya tidak terdengar dari balik pintu kamarku.

Indira adalah suatu kemenarikan di rumah ini, sejak kesan pertama aku bertemu dengannya. Semakin lama tidak ada peningkatan pada hubungan kami memang,  mungkin ia masih belum bisa menerima, seorang gadis kecil yang lusuh telah menghancurkan suasana bahagia dalam keluarganya. Tetapi dibandingkan kesan tidak bisa menerima, aku lebih menangkap kesan tidak boleh menerima. Tentu Indira tidak ingin semakin menyakiti perasaan tante Indah dengan menerima keadaanku.
Harapan untuk bisa dekat dengan Indira sering terbesit dalam benakku. Aku ingin belajar banyak darinya, menjadi cantik, cerdas, dan rendah hati. Tapi sepertinya sedikit mustahil. Sering kali aku merasa bersalah, memberi noda dalam kesempurnaan hidup Indira. Aku sendiri bertekad, jika dalam beberapa hari kedepan, tepat sebulan aku di rumah ini, dan tidak ada perubahan atas kerenggangan suasana keluarga ini, lebih baik aku pergi.

*

Aku membuka mataku pelan, sesekali kembali menguap dan menggeliat. Ini kali pertama aku merasa nyenyak dalam tidurku. Ketika aku memandang sekelilingku, aku baru tersadar bahwa ini bukan kamarku. Kamar dengan ukuran yang sama memang, tetapi dekorasi serba ungu itu membuatku sedikit yakin bahwa ini adalah kamar Indira, memunculkan banyak tanda tanya.
Beberapa detik kemudian Indira keluar dari kamar mandi. Aku sedikit salah tingkah, khawatir jika Indira masih memberiku tatapan serupa. Tapi aku salah, Tatapan Indira kali ini berbeda, lembut. Ia bahkan memperlihatkan seuntai senyum.
“Jangan terlalu sering ketiduran di gudang, bisa sakit nanti. Ambillah mainan yang kamu suka dan bawalah ke kamarmu.”
Aku merasa semilir angin melewati leherku .’Indira bicara denganku? Atau aku hanya bermimpi?’ tanpa sadar aku mencubit lengan kiri tanganku sendiri. Sakit. Jadi ini bukan mimpi. Aku sendiri masih menyimak, berharap Indira mengatakan hal lain dan lebih banyak.
Setelah lima menit berlalu, tak terdengar lagi ucapan Indira. Entah sibuk apa ia. Aku memilih untuk kembali ke kamarku. Namun ketika aku baru beranjak, Indira memanggilku.
“Aulia..” aku berhenti, memberanikan diri menatap Indira. “Jangan pernah sedikitpun berpikir untuk keluar dari rumah ini. Aku tidak ingin menjadi egois. Bagaimanapun sebentar lagi aku harus kuliah di Kanada, dan keluarga ini mebutuhkanmu. Tetaplah bertahan dalam setitik sandiwara di rumah ini. Berpura-pura keluarga ini adalah keluargamu dan tidak ada masalah antara kita. Aku yakin, itu tak akan lama.”
Untuk ukuran anak kecil usia 8 tahun, aku rasa wajar jika aku tidak terlalu paham kata-kata indira. Tetapi, sekali lagi, tatapan Indira yang hangat dan lembut memberi pengertian, lebih dari cukup jelas.

*

Indira dengan senyum manisnya melambaikan tangan pada kami – aku, ayah, dan tante Indah – yang terbatas dinding kaca. Sesuai perkataannya bulan lalu, Indira benar-benar meninggalkanku untuk kuliah di Kanada. Aku memandang satu-satu kedua orang yang ada di sebelahku. Ayah tampak memperlihatkan senyum, menyiratkan kesan ‘Hati-hati di jalan, Ra. Kami mendoakanmu. Lain lagi dengan tante Indah. Aku menangkap benih-benih tangis di matanya, guratan senyum teruntai, seiring lambaian tangan kanannya. Sayangnya, aku tidak bisa membaca siratan makna lewat raut wajahnya itu.
Ahh.. aku menghela nafas panjang. Sempat terpikir ketidakberanian menghadapi kehidupan selanjutnya. Bersama mereka yang masih menganggapku orang lain.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan lembut di tangan kananku. Tidak ini tidak hanya sentuhan, tetapi ini adalah genggaman. Semakin lama genggaman itu semakin erat. Aku melirik ke arah tante Indah. Tangan kanannya tidak masih melambai mengantar kepergian Indira. Mimik wajahnya juga tidak berubah sama sekali. Tetapi aku yakin, hatinya sudah mulai berubah.

***

0 komentar:

Post a Comment